Silahkan Pilih Warna Latar Blog ini Sesuai Dengan kenyamanan Anda

Tampilkan postingan dengan label Seni Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni Budaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 November 2012

Pagelaran Muharram Tana Samawa 2012

TU SEMARAK ADAT, SAKUAT SILATURRAHMI

Peringatan menyambut tahun baru islam 1 Muharram 1434 Hijriah yang jatuh pada hari rabu (14/11) pelaksanaannya dirangkaikan dengan berbagai jenis kegiatan lomba keagamaan dan pagelaran budaya samawa serta pawai yang diikuti oleh 24 kecamatan se-kabupaten sumbawa. Tentu saja, kegiatan ini membuat peringatan satu muharram pada tahun ini menjadi semarak. 
Dua hari menjelang bulan muharram telah dilaksanakan lomba bersholawat dan lomba besrakal (syarakal) yang dipustkan di Masjid Raya Nurul Huda Sumbawa Besar. Lomba bersholawat yang diikuti kaum hawa ini berhasil dimenangkan oleh majlis ta'lim darussalam dari kecamatan Lape sebagai Juara sedangkan juara syarakal untuk kaum adam dimenangkan oleh remaja masjid syamsul falah kecamatan moyo hilir. Selain itu dilaksanakan pawai ta'ruf batedung tuntang pada sore harinya yang diikuti oleh siswa sekolah dasar hingga siswa sekolah menengah atas.

Puncak acara satu muharram yang dilaksanakan di halaman istana dalam loka sumbawa besar berlangsung cukup meriah. DR. Subhan selaku penceramah menyampaikan beberapa poin tentang hikmah peringatan Muharram tahun ini. Diantaranya sejarah masuknya islam ke tana samawa yang dibawah oleh sunan prapen pada tahun 1632 (abad ke-17). Dengan usia yang sudah berabad ini, tentu saja nilai-nilai islam haruslah menjadi nafas tau dan tana samawa dalam kesehariannya. Nilai-nilai tersebut diantara tentang kerukunan dengan sesama muslim maupun dengan non muslim. Sesuai dengan hadist Rasulullah yang mengatakan "belum dikatakan islam seseorang apabila dengan kehadirannya tidak bisa menciptakan ketenangan, kedamaian, bagi saudaranya (tetangga) baik itu dengan lisannya, tangannya maupun perbuatannya." Untuk itu, beliau mengajak tau dan tana samawa agar selalu berpegang teguh kepada agama Allah sesuai dengan jiwa tau samawa "Takit Lako Nene, Kangila Boat Lenge" (takut pada Allah, malu berbuat kemungkaran/kejelekan).

Bupati sumbawa bapak Drs. H. Jamaluddin Malik dalam sambutannya pada malam itu mengajak kepada semua masyarakat sumbawa agar momentum muharram tahun ini menjadi sarana introspeksi diri, sejauh mana kita telah melaksanakan nilai-nilai islam dalam keseharian kita. Sehingga tercipta kedamaian dan ketenangan di tanah samawa tanpa terusik oleh tingkah laku anarkis seperti yang terjadi di beberapa daerah lain. Bapak bupati juga menyinggung tentang peringatan muharram tahun ini diselenggarakan dengan cara yang berbeda yaitu dengan merangkaikannya dengan kegiatan-kegiatan budaya. Kegiatan semacam ini dihajatkan untuk mengembalikan kembali budaya-budaya kita supaya dikenal kembali oleh tau samawa. Selanjutnya acara peringatan muharram dirangkaikan dengan pagelaran malala (Meramu Minyak/Obat sumbawa) yang diikuti oleh sandro (tabib) dari 24 kecamatan. 
 
 
Sumber Artikel :
http://gemparvaroz.blogspot.com/2012/11/pagelaran-muharram-tana-samawa-2012.html
»»  Baca Selengkapnya

Senin, 05 November 2012

PAGELARAN MUHARRAM TANA SAMAWA 2012

  PETUNJUK TEKNIS
PAGELARAN MUHARRAM TANA SAMAWA 2012
A.      LATAR BELAKANG
Sumbawa sejatinya merupakan sebuah khasanah yang tak ternilai dalam sebuah entitas “tau dan tana samawa” yang tumbuh berkembang ditengah – tengah peradaban bangsa dan negara Indonesia ini.
Bahkan entitas ini bukan hanya menjadi  “atribut”  namun lebih dari itu merupakan perekat dan tata nilai yang menjadikan Sumbawa dapat terus tampil berwibawa di lingkungan regional, nasional bahkan internasional.
Adat istiadat Sumbawa yang terangkum dalam  satu falsafah hidup “Adat Barenti ko Syara’ dan Syara’ Barenti ko Kitabullah” memiliki makna  yang luhur dan nilai yang luar biasa, karena diyakini bahwa tata nilai yang berkembang merupakan kaidah yang bersumber dari nilai – nilai agama (religi) yaitu Islam.
Sejarah telah mencatat kisah dan legenda yang membentuk sebuah tatanan sosial budaya sejak terbentuknya kesultanan pada tahun 1648 sampai saat ini, telah menunjukkan kepada generasi muda  sekarang  betapa simbol – simbol kesumbawaan seperti Istana dan Mesjid menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Sumbawa yang religius.
Salah satu tradisi yang tumbuh berkembang dan akan terus lestari dikalangan masyarakat Sumbawa adalah Tradisi Muharram.  Disebut tradisi, karena bagi masyarakat muslim khususnya di Sumbawa, bulan Muharram diyakini memiliki nilai dan keistimewaan tersendiri. Maka tidaklah heran jika setiap bulan Muharram di sepanjang tahun, masyarakat Sumbawa melakukan berbagai kegiatan ritual. Mulai menampung dan menyimpan air hujan malam pertama yang turun pada bulan Muharram, pembuatan minyak obat oleh para ahli minyak sumbawa atausanro  (tabib) yang lazim dikenal dengan malala, baguru, puasa muharram dan berbagai tradisi lainnya.
Nuansa religius yang berbaur dalam jiwa budaya Sumbawa tersebut, memunculkan ide untuk  menggeliatkan kembali semangat religius masyarakat  Sumbawa , merayakan tradisi yang mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Sumbawa sekaligus memperkuat silaturrahim tau dan tana samawa dalam bentuk  “PAGELARAN MUHARAM TANA SAMAWA 2012”. 
B.       MAKSUD dan TUJUAN
“PAGELARAN MUHARAM TANA SAMAWA 2012”  merupakan  pesta rakyat dengan kemeriahan bernuansa Islami yang menampilkan berbagai kegiatan kesenian, atraksi budaya dan produk-produk daerah di Kabupaten Sumbawa.
Pagelaran Muharram Tana Samawa 2012, dimaksudkan untuk melestarikan dan lebih menggeliatkan semangat tradisi masyarakat Sumbawa serta mempromosikan salah satu pesona budaya Sumbawa yang diharapkan dapat menjadi  salah satu daya ungkit berkembangnya sektor kepariwisataan di Kabupaten Sumbawa.  Pagelaran Muharram Tana Samawa 2012 merupakan salah satu rangkaian kegiatan penyelenggaraan PAGELARAN MOYO 2012 serta menyambut Hari Ulang Tahun Ke-54 Kabupaten Sumbawa Tahun 2013.
Salah satu elemen yang faktual yang ingin ditampilkan dalam Pagelaran ini adalah keberadaan “sanro” yang tidak bisa kita pungkiri dalam kehidupan masyarakat Sumbawa menduduki fungsi yang prestisius. Dalam keseharian dapat dilihat dan dirasakan secara nyata bahwa sebagian besar bahkan seluruh aktivitas masyarakat Sumbawa tidak lepas dari peran “sanro”. Misalnya mulai dari mengawali masa tanam (sateri tampak), prosesi pengantin, basunat, pertandingan (apapun bentuknya), bisnis, penyembuhan bahkan ke persoalan politik, semua tidak ada yang dilepaskan dari peran sanro.
C.       TEMA
 “Tu samarak adat, sakuat silaturrahim”

D.      EVENT KEGIATAN
Kegiatan – kegiatan yang direncanakan akan diselenggarakan dalam PAGELARAN MUHARRAM TANA SAMAWA 2012, antara lain :
1.    Lomba Sarakal;
2.    Lomba Shalawat Ibu – ibu;
3.    Pawai Ta’aruf (Batedung Tuntang);
4.    Lomba Foto Kreasi Panorama Sumbawa;
5.    Malam Puncak Peringatan 1 Muharram 1434 H;
6.    Prosesi Malala;

E.       WAKTU dan TEMPAT PELAKSANAAN
PAGELARAN MUHARRAM TANA SAMAWA 2012 dilaksanakan pada tanggal 12-15 November 2012 bertempat di Masjid Agung Nurul Huda dan Istana Dalam Loka.

F.        JENIS KEGIATAN
1.    LOMBA SARAKAL
a.    Peserta terdiri dari 10 orang pria;
b.    Usia antara 25-40 tahun;
c.    Lama tampil 10-15 menit;
d.   Naskah/syair dikutip dari penggalan naskah antara Barzanji dan Sarakal yang disesuaikan dengan kebutuhan pertunjukan;
e.    Memakai busana muslim atau busana pentas yang digarap khusus untuk penampilan Barzanji dan Sarakal;
f.     Properti dan perlengkapan pertunjukan jika dibutuhkan disiapkan sendiri oleh peserta;
g.    Menyerahkan daftar nama peserta dan naskah Sarakal;
h.    Aspek penilaian :
ØLafadz (ketepatan dan kemurnian ucapan) : suara/lagu, sonoritas/kemerduan, jangkauan nada, kekompakan dan irama lagu;
ØPenyajian : teknis tampil, etika dan tata tertib;
ØPenampilan : busana/rias, ekspresi, totalitas penampilan.
2.    LOMBA SALAWAT IBU-IBU
a.    Peserta terdiri dari 10 orang wanita;
b.    Usia antara 25-40 tahun;
c.    Lama tampil 10-15 menit;
d.   Naskah/syair dikutip dari penggalan naskah Barzanji yang disesuaikan dengan kebutuhan pertunjukan;
e.    Memakai busana muslim atau busana pentas yang digarap khusus untuk penampilan Salawat;
f.     Properti dan perlengkapan pertunjukan jika dibutuhkan disiapkan sendiri oleh peserta;
g.    Menyerahkan daftar nama peserta dan naskah Salawat;
h.    Aspek penilaian :
ØLafadz (ketepatan dan kemurnian ucapan) : suara/lagu, sonoritas/kemerduan, jangkauan nada, kekompakan dan irama lagu;
ØPenyajian : teknis tampil, etika dan tata tertib;
ØPenampilan : busana/rias, ekspresi, totalitas penampilan.
3.    PAWAI TA’ARUF (BATEDUNG TUNTANG)
a.    Peserta pawai ta’aruf adalah siswa sekolah tingkat SD, SMP, SMA, SKPD Kab. Sumbawa, LATS Kabupaten dan masyarakat umum;
b.    Peserta yang dilombakan terdiri dari siswa sekolah tingkat SD/sederajat, SMP/sederajat dan SMA/sederajat;
c.    Properti dan perlengkapan pawai ta’aruf jika dibutuhkan disiapkan sendiri oleh peserta;
d.   Aspek penilaian
ØKerapian barisan
Ø Penampilan : busana/rias, ekspresi, totalitas penampilan.
4.    PROSESI MALALA
a.    Peserta adalah sanro dari masing-masing kecamatan;
b.    Jenis minyak yang dibuat diserahkan pada masing-masing sanro yang disesuaikan dengan cirri khas masing-masing kecamatan;
c.    Pagelaran Malala tidak diperlombakan, tiap sanroakan mendapat cendera mata dari Panitia Pagelaran Muharram;
d.   Bahan-bahan minyak dan perlengkapan lainnya jika dibutuhkan disiapkan sendiri oleh peserta;
5.    LOMBA FOTO KREASI PANORAMA SUMBAWA
a.    Peserta adalah masyarakat umum;
b.    Tema foto “Budaya Tau dan Tana Samawa”;
c.    Foto yang diperlombakan diberi nama, alamat, nomor hp, judul  dan deskripsi foto. Dicetak ukuran 10R dan menyerahkan softcopy dalam bentuk CD-R atau melalui email subbag.sosmas.sumbawa@gmail.com;
d.   Maksimal 1 foto per peserta;
e.    Foto tidak mengandung sara dan pornografi;
f.     Menyertakan spesifikasi kamera;
g.    Olah digital diperbolehkan, sebatas perbaikan kualitas foto tanpa merubah keaslian objek (sharpening,cropping, color balance, dan saturasi warna);
h.    Tidak diperbolehkan mengirimkan foto berupa kombinasi lebih dari satu foto atau menghilangkan/mengubah elemen-elemen dalam satu foto;
i.      Karya foto yang dikirim adalah karya ciptaan sendiri, belum pernah dipublikasikan di media cetak dan belum pernah memenangkan penghargaan dalam lomba fotografi;
j.      Aspek penilaian :
Ø Kesesuaian Tema (isi foto)
Ø Daya tarik
Ø Originalitas
Ø Keunikan
Ø Harmonisasi
k.    Hak cipta melekat pada fotografer, namun Bagian Adminitrasi Pemerintahan Sekretariat Daerah Kabupaten Sumbawa diberikan hak untuk mempublikasikan semua foto yang masuk untuk kepentingan non-komersial tanpa harus ijin dari pemiliknya. Panitia dibebaskan tuntutan fihak III bila foto digunakan untuk kepentingan komersial;
l.      Foto yang dikirim ke tidak dikembalikan dan menjadi koleksi Bagian Adminitrasi Pemerintahan Sekretariat Daerah Kabupaten Sumbawa;
m.  Foto (cetak dan softcopy) diterima selambat-lambatnya hari Senin, 11 November 2012 pukul 16.00 WITA;
n.    Hasil foto akan dipamerkan selama berlangsungnya Pagelaran Muharram Tana Samawa 2012 mulai tanggal 12-15 November 2012;
G.      HADIAH
Dewan Juri menetapkan peringkat atas juara I hingga juara III bagi materi Lomba Sarakal, Lomba Salawat Ibu-ibu, Pawai Ta’aruf (Batedung Tuntang) dan Lomba Foto Kreasi Panorama Sumbawa. Sedangkan bagi materi Festival Malala tidak diperlombakan. Keputusan Dewan Juri mutlak tidak dapat diganggu gugat.
Panitia menyediakan hadiah dalam bentuk :
1.    Piala; dan
2.    Uang pembinaan.
H.      PENUTUP
Hal-hal yang belum tercantum dalam Petunjuk Teknis ini, akan diberitahukan lebih lanjut

»»  Baca Selengkapnya

Selasa, 23 Oktober 2012

Lawas Muda Mudi (Ramanjeng)

Malalo kau e surat
Bawa salam doa kaku
Bada ling ada rasate

Rasate kaku andi e
Ku potret kau kuni po
Ya timal nonda ku gita

Ajan mu gita rua ate
Lit rea ada si sisi
Ko kau no kuto sanga

Tingi mara palaning re
Nongka ku ngasan baruak
Ku roa rari ku kawa

Petang sarawi kuipi
Sipu ku kamata rua
Bato mo batepang datang

Datang kusangangkang rua
Kutulang kemas katawa
Andi no bosan ku tulang

Bua no bosan ku tulang
Manang mara ka tu pasuk
Tokal mara ka tu antin

Ku tulang bungkak angkang si
Bua ku tokal barangkang
Ku buya rua ling ate

Ada ke nasib ya kompal
Lamin bau si bakompal
Batinku senra ko andi

Nomonda ate sampe su
No soda ku su ko kau
Ko parana ku baesi

LAWAS SEMPU
Ngungku ayam ling samawa
Samung ling sanak do tokal
Mole tu sakompal ate

Ate ku belo ko sempu
Kusalontak mega pitu
Ngantung no ke beang bosan

Mara punti gama ina
Den kuning no tenri tana
Mate bakolat ke lolo

Balong tau no mu gegan
Lenge sempu no gantuna
Denganmu barema ngining

Ling dunia pang tu nanam
Pang akhirat pang tu matak
Ka tu boat po ya ada

Na asi mu samogang
Paboat aji ko Nenek
Ama krik slamat dunia akhirat

Kalalo tua balobo
Depar mo ne ku balangan
No monda susa inta ee

Manyak daeng bao tango
Ling uma pamanto daeng
Panto tu barapan kebo

Puji diri silalayang
Entek ko bao ling angina
Turen ko bawa buying si

Seribu dengan tu tokal
Lamin nonda tua sia
Selingong mata ku nulang


Artikel Dari : 
http://herijuve.wordpress.com/2009/06/03/kumpulan-lawas/
»»  Baca Selengkapnya

Membedah Lawas Samawa

Lawas adalah Seni Sastra yang sangat menonjol ditengah kehidupan masarakat. Bagi Tau Samawa Lawas ;  bukanlah sekedar seni sastra, namun Lawas juga sebagai bentuk media hiburan yang dapat dipertunjukkan atau dipertontonkan. Lawas ini diwariskan dan diturunkan dalam bentuk lisan oleh leluhur orang Sumbawa. Lawas juga menjadi sumber dari segala sumber seni. Ia bisa dilantunkan kedalam berbagai bentuk seni, misalnya, Seni Balawas, Rabalas Lawas, Malangko, Badede, Badiya, Bagandang, Bagesong, dan Sakeco, bahkan dalam bertutur atau bercerita pun biasa dismpaikan dalam bentuk Lawas.

Dalam Kamus Bahasa Sumbawa-Indonesia dikatakan bahwa Lawas adalah sejenis puisi atau pantun  khas Sumbawa sehingga juga disebut sebagai bahasa puitik Tau ( orang ) Sumbawa. Lawas terdiri atas tiga baris dalam satu bait atau ada pula yang terdiri dari empat atau enam baris. Bedanya dengan puisi atau pantun melayu terletak pada suku kata didalam setiap barisnya. Kalau pantun 7 suku kata, maka Lawas terdiri dari 8 suku kata dalam setiap barisnya. Jika lebih maka membacanya akan sangat sulit. Lawas ini biasa dilisankan atau dilantunkan pada upacara-upacara tertentu misalnya pada upacara Nyorong, bagian dari sebuah prosesi pernikahan. 

Lawas sebagai puisi lisan tradisional masyarakat Sumbawa hingga sekarang masih dapat kita jumpai atau nikmati dalam berbagai bentuk pertunjukkan di Sumbawa walau sebagian orang Sumbawa sudah tidak lagi mengenal atau lebih tepat disebut dengan tidak bisa Balawas. Sehingga di zaman modern sekarang ini, sedikitnya ada tiga katagori orang Sumbawa terhadap Lawas ini. Yang pertama : Tidak bisa Balawas ( membuat atau melantunkan ) namun mengerti akan makna dan filosofi dari Lawas tersebut. Kedua ; adalah sebaliknya ; Hanya bisa Balawas, tapi tidak mengerti atau memahami makna Lawas yang di lantunkan, sehingga tidak jarang lawas yang dibuat atau dilantunkan tidak berhubungan dengan kaidah-kaidah sebuah Lawas. Ketiga ; banyak diantara orang Sumbawa yang tidak bisa Balawas dan sama sekali tidak mengerti pula makna yang terkandung didalam bait-bait Lawas itu.

Lawas-lawas ini biasanya dipertunjukkan dalam dua bentuk, meliputi: Pertujukan di dipanggung dan pada saat orang bekerja di sawah dan di lading atau saat gotong royong membangun rumah, mengasuh anak, upacara adat, dan pada kegiatan Barapan Kebo ( Kerapan Kerbau ), yang kesemuanya itu merupakan tradisi dan budaya masarakat Sumbawa. Lawas juga dilantunkan pada saat beraktivitas misalnya untuk mengurangi rasa sepi, sebagai hiburan, mengalihkan perhatian dari pekerjaan yang dilakukan bahkan untuk melakukan kritikan-kritikan terhadap penguasa.

Kehadiran Lawas di Sumbawa awalnya tidak diketahui secara pasti namun diperkirakan dibawa oleh pembantu-pembantu Sultan Sumbawa yang pulang berguru Agama Islam di Aceh dan semenanjung Melayu dan Banjar. Dihubungkan kesana, karena Lawas sangat mirip dengan pantun melayu. Yang membedakan di suku kata. Lawas delapan suku kata, sedangkan pantun tujuh suku kata. Begitu pula dengan bentuknya, pantun diawali dengan sebuah perumpamaan atau ibarat, baru ke isi. Lawas pun demikian. Masarakat Sumbawa mengenal perumpamaan atau ibarat itu dengan EBAR. Ebar ini diambil dari lingkungan, seperti tumbuh-tumbuhan dll. Sebuah contoh Lawas yang biasa diperuntukkan bagi pengantin baru misalnya mengambil perumpamaan kepada bunga Oyong  atau dalam bahasa Sumbawa nya Tamuruk. 

Na Mara Kemang Tamuruk
Kekar Asar Gugir Subu
Maras Si Konang Sangara.


Lawas ini mengingatkan pengantin baru agar tidak seperti Bunga Oyong ( Tamuruk ) yang mekarnya sore hari namun gugur dan layu diwaktu subuh. Maknanya ; bahwa apalah artinya membangun sebuah rumah tangga yang hanya sesaat, padahal siapapun pasti menginginkan rumah tangga itu kekal sepanjang hidup. Dari itu itu orang tua berharap, agar rumah tangga itu bisa bertahan hingga ajal menjemput seperti yang terlukis dari sebuah lawas :

Mara Punti Gama Anak
Den Kuning No Tenri Tana’
Mate’ Bakolar Ke Lolo


Pohon pisang dilambangkan sebagai contoh yang pantas ditiru,walaupun dahannya mati dan menguning ia takkan lepas dari pohonnya.


Dari sebuah catatan, bahwa kehadiran Lawas bagi masyarakat Sumbawa pada awalnya berperan sebagai media ekspresi batin manusia dan sebagai perekam peristiwa yang terjadi di seputarnya. Apa yang tampak atau yang dipikirkan oleh masyarakat Sumbawa tempo dulu biasanya akan disampaikan melalui Lawas. Lawas seperti ini disebut pula dengan Lawas Loka karena sebagian besar lawas-lawas itu masing-masing bercerita tentang masanya. Sebuah contoh ketika orang-orang Makasar mulai berdatangan ke Sumbawa, orang-orang tua dahulu mencatat dan melukiskan sekaligus sebagai sebuah peringatan bagi anak dadi nya ( anak,keponakannya ) dengan sebuah Lawas.

Mana Si Kapasal Cinde
Min Kadadi Tali Lampak
Ya Rik Repa’ Si Leng Tau.
 
Mana Si Kapasal Lutung
Lamin Dadi Lapis Songko
Soan Jonyong Si Leng Tau

Makna bait pertama lawas diatas : Walaupun kita datang dari keturunan orang mulia, orang berada dlsb namun jika perangai dan sikap kita tidak terjaga apalagi menunjukkan kesombongan dan bangga akan kelebihan yang kita miliki maka pasti akan dicampakkan oleh orang lain. Bait pertama lawas diatas menceritakan bagaimana dahulu itu orang-orang Makassar datang dengan segala kebesaran dan kekayaan yang melimpah ruah ditambah dengan pengikut yang sangat banyak. Begitu pula dengan penampilan dari sebagian besar diantara mereka yang cenderung menganggap hina penduduk asli yang rata-rata tidak memiliki harta dan dari keturunan rakyat biasa. Lalu sebagian orang Sumbawa saat itu kebanyakan pula mengikuti pola tingkah para pendatang itu sehingga orang-orang seperti itu dijuluki oleh orang-orang tua dahulu dengan sebutan Tanja Makassar.
Melihat kondisi itu diperkirakan lahirlah Lawas diatas sebagai sebuah pasangingat dan pasatotang ( Peringatan dan Nasehat ) agar jangan meniru hal-hal yang tidak selaras dengan kehidupan orang kebanyakan seperti yang tertulis di bait terakhir lawas diatas. “ Walaupun kita datang dari orang kebanyakan atau rakyat jelata yang disimbulkan dengan Lutung ( sejenis kain berwarnah hitam ) namun bersikap bijaksana, beretika, bertata karma, dan memiliki perangai yang baik ( dilambangkan kain Lutung itu sebagai lapisan sebuah kopiah ) maka akan didengar, disegani, diteladani dan dijunjung oleh orang lain. 


Bang Mek Baeng Tulisan
»»  Baca Selengkapnya

Kumpulan Lawas Samawa

Lawas Akherat
 
Lale Lupa No Akhirat
Belo Angan Ko Dunia
Umir Rena Sajan Kurang
Kurang Umer No Tu Mikir
Tu Kalulu Leng Rasate
Nan Po Masa Ya Tu Nesal
Palangan Angkang Akhirat
Pasuru Datang Les Repan
Rame Rena Ke Mulia
Mulia Rena Parenta
Datang Talang Ke Bulaeng
Ya Sangisi Sabe Ijo
Parenta Nene Ko Nyawa
Ya Sakomong Sabe Ijo
Seri Rupa Mampis Rungan
Jira Nusung Ko Dunia
Kamilin Amal Akherat
Siong Desa Pang Tu Tokal
Ate Nusung Ko Dunia
No Monda Rajin Ibadat
Datang Mate Nan Po Mati

Lawas Sindiran :

Sima Kateman Tu Peno
Ngering Ate Ya Parasa
Pikir Tanang Ya Satepat
Meluk Satepat Ruana

Tu Bajatu No Ramenong
Ada Mata No Bagita
Seman Gama No Ramenong
Sapuan Ada Mo Tempa

No Balong Lamin Tu Turit
Na Turit Lenge Parange
Menong Gama Ling Satotang
Lema Mampis Bawa Rungan
Lawas Pasatotang :
 
Berat Tu Balin Rasate
Mangan Nginim No Mo Ruris
Ngantok Konang No Lap Mata

Meluk Ya Bau Lap Mata
Ate Pikir Desa Darat
Meluk Cara Ya Tu Bangun
Ka Tu Bangun Ola Tenrang
Masi Sate Ya Sarusak
Ke Kateman Ling No Nyata
Dapat Ling Sanompo Ngano
Nyata Si Neja Tugita
Tu Sarusak Desa Darat **
Rasate Sopo Ke Jangi
Mara Lanang Tengke Turis
Mana Layu No Si Bosan
Na Mu Arap Ya Tu Bosan
Lagi Balong Si Bajatu
Tu Bela Mana Tu Mate
Nan Po Kira Ya Tu Bosan
Min Balangan No Mo Ruris
Tu Satepat No Mo Tepat

Ma Bau Balangan Ruris
Laga Ke Menong Satotang
Lema Belo Mo Panotang ***
Lagi Kayu Ka Tu Pasuk
Ka Po Sakit Tu Bau Mat
Goyo Tu Ka Dukung Sia
Na Mirik Mana Sajengkal
Satepat Lema Bau Ruris
Biyal Sate Na Mu Turit
Na Turit Ala Na Turit
Tau Pusan Na Tu Turit
Pusan Rota Sala Pikir
Kabiasa Ajak Mikir
Lamin Tempa Dadi Balong
No Si Sala Tu Samaris ***
Balong Intan Bawa Diri
Bolang Tanja Tukajongar
Edap Rena Alis Ate
Lamin Balong Mo Parange
Alis Ate Patis Boa
Nan Puin Tumung Pamendi
Kabali Datang Pamendi
Ruris No Pendek Ling Bola
Bajampang Ikhlas Ke Reda
Nonda Rungan Bawa Lenge
Kabalong Bae Tu Menong
Nannya Singin Mampis Rungan ***
Mana Si Kapasal Lutung Bau
Dadi Lapis Songko Jonyong
Soan Si Ling Tau Kelle
Si Karowe Cinde
Lamin Dadi Tali Lampak
Ya Rik Repa Si Ling Tau
Mana Si Kurang Pang Harta
Konang Mulia Ling Batin
Sai Po Intan No Satabe’
Kelle Si Sugi Gamperak
Min Kajongar Bawa Diri
Tu Rapang Roro Siong Si ***

Lawas Barapan Kebo :

Oo Sarea Rama Peno
Taku Lawas Luk Barapan
Dadi Adat Tubadesa’
Barapan Kembo Sia Ee
Dadi Adat Tu Samawa’
Ya Sangada Saruntung Tin
Benru Waya Mo Barapan
Kemas Muka Baeng Kembo
Kamata Ya Tau Kareng
Kembo Parapan Sia Ee
Siong Mara Pamatik Lin
Mangan Ngenta Yasakatu
Siong Bae Mangan Ngenta
Balangan Iring Ke Sanro
Imung Ampo Ke Sarune
Tutu Maras Tu Barapan
Lagi Kembo Lantar Saka’
Ngumang Tenris Mo Balawas
Tanya Lawas Tu Barapan
Sier Rena Jonyong Mangkar
Imung Si Ampo Ke Joge
Ta..Ta.. Ta.. Ta.. Tamo Lawas
Lawas Kapang Tu Maronge
Balong Sima Balong Menong
Nonda Dua Ling Samawa
Barapan Rame Mara Ta
Maronge Bae Gila Ee
Gila Rampis Tu Maronge
Sampanang Adat Barapan
Barundang Sasir Mo Gili
Min Barapan Pang Maronge
Mana Ada Boat Iwit
Bilin Lepas Lalo Manto
Lako Kita Tu Samawa
Masamaris Barapan Ta Kembo
Na Boe Tujual
»»  Baca Selengkapnya

Syair Lagu Album Losonk

Kemang Kuning
By : Epun Gera’

Kemang Kuning Sawir Mampis
Sinta Tutu Ya Mu Sumping
Kemang Komal No Santari

Gendras Mo Le Tu Batari
Kayu Padenung Lusit Mo
Kane Kanejak Beling No

Ajan Leno Mara Jasad
Dua Mo Dengan Tu Rabagi
Tanang Ya Seseng Mesa Si

Seseng Untung Pang Tenga Nanga
Malang Takat Jendring Tampar
Balabu Ngantung Susa Si

Palabu Untung Pang Sia
Konang Guntir No Basenda
Ku Sorong Dunung Ila Si

==================================

Remban Panungkas
By : Epun Gera’

Aku Tu Supu Parana Mesa”
Ngining Lo Langan Panesal
Satumpu Diri Polak Rasate
Luk Sempu Nonda Panulang

Kanyung Tingi Mo Pang Tokal
Sajanyar Bulan Ke Bintang
Seli Tu Ngining Kalanye Intan E
Tili Ling Bewe Kalako

Sarungan Gama Ko Gili
Ta Remban Ai No Kesat
Barereng Nonda Katumpu
Satelas Ate Satowe

Maris Balangan Badua
Na Samirit Ate Ka Kendung
Mana Ling Era Bentan Rarate
Mana Ling Era Bentan Rarate

Mana Sakeme Bentan Rarate
Satingi Balong Ko Nene
Panungkas Balat Panyoba
Panungkas Balat Panyoba

==================================

Sumpeng Kemang
By : Epun Gera’

Kompal Mo Niat Ku Ko Sia
Ate Keyal Ling Panyadu
No Monda Dengan Tu Baning
Karing Sasopo Jangi Ke Untung
           
Lamin Rasate Sumpeng Kemang Ta
Satingi Mo Gegan Ling Ate
Sakantap Kanto No Guger
No Si Urung Untung Ko Sia

Ku Menong Lawas Kaka’  e
Rapang Ku Gita Parana
Senap Mara Bulan Lis

Kasenar Caya Bulan Lis
Tangko Ling Mega Bagentan
Bintang Baliuk No Caya
Bintang Baliuk No Caya

==================================

L o s o n g
By : Epun Gera’

Antak Acin Acin Lamin No Roa Beling
Tu Rantak Mara Masin
Long De  Long De Parode Ode Ate

We eee … We eee …
Rembang Datang Masa Mata
Suar Seme Tentan Rangap
Tu Kamata Mata Rame

Barungan Rame Tu Mata
Lalo Ngayo Ete Siru
Kamata Rame Ramia

Pang Masa Nan Mo Tu Gita
Tu Taruna Ke Dadara
Maras Lawas Saling Siyer
Maras Lawas Tu Saling Siyer

We Andi...   We Kaka’ Balong..... 2 X


Tutu Maras Tu Balawas
Imung Senda Sengo Losong
Sai Po  No We Sai Po No Ya Giyer Ate

O .. Mega  Tili Gama  Ano
Payung Tu Riam Ke Sempu
Langan Senap We Langan Senap
Sangada Jangi

==================================

Tangar Do
By : Epun Gera’

Sopo Hajat Pang Andi
Sapolak Pang Aku Bae Mo
Arap Satungku Leng Jangi
Barete  Untung Tu Kita

We Nanta We Jangi
Hu Hu Hu We Nanta Na Hu Hu Hu

Kaling Manis Mu Andie
Ku Pina Ipi Parasa             
Lok Sosong Ate Kalembu
Andi Ke Gama Ku Sumpeng

Tutu Si Samin Pang Tokal
Na Arap Putes Panotang
Tu Ajar Ate Rengang Do

O Tanenang Gila E
Sanapat Lawas Tu Gama
Pese Renas Bada Tedu
Sengo Na Sampe Bewe Len

O Angin Gila  E
Bawa Ku Ngawang Ko Langit
Sanempas Pangita Ko Andi
Santung Leno Ku Turet

==================================
                                            
Renteng Malino
By : Epun Gera’

Ku Pendi Ai Ngarenteng
Ngemung Ngenat Susung Takat
Konda Ling Limung Nonda Man .. We Andi  Ee

Mana Si Ling Dalam Limung
Ta Ku Pina Bangka Nyawa
Mana Linting Ku Ketong Si

Ketong Saya Sampan (We Sampan) Tonda
Bose Dadi Timal Katir
Salayar Ate Ka Kendung
Tutu Si Ate Ka Kendung
Saling Sayang Ke Pamendi
Bagian Nonda Panempas

Saling Sarela We Andi
Maris Mo Mikir Lako Lin
Ke Aku Kena Mu Ngining

Kane Ka Rela Untung Ta
Tu Sakantap Mo Bagian
Ba No Mo Mandang Lako Lin

==================================

Ela Bata Tarang Tajo
By : Epun Gera’

We Adi Kaka’  Sanak Sempu 
Maris Tu Saling Beme
We Adi Kaka’  Sanak Sempu  
Maris Tu Saling Sayang

We...Eye.....Aye
Tu Saling Beme Tu Saling Sayang
Ko Katenrang

Lamin Ada Boat Desa
Na Tu Saling Panto Ora
Laga Mo Parenta Kewa Maras
Senap Semu Nyaman Nyawe
Ela Bate Tarang Tajo

Genras Maras Tu Barema
Saling Sakiki Jina Sakendi
Mana Lenang Sampong Leng Sio
Sadi Toar Menong Senda
Ela Bate Tarang Tajo

Dadi Mo Ama Rama Peno
Karing Saman Dunung Ana
Jangka To No Mo Kamilin
                       
Na Bilin Sendi  Gamana
Ka Panising Tau Loka
Pina Ila Ya Kasisi
Ma Kompal Maris Ko Balong

==================================

Kemang Bilen Puin
By  :  Epun  Gera

Ampin Julin Ruana
Sarea Sabar Pang Ate
Pola Tu Seseng Bagian
We  Bagian 

Parana Muris Nong Jangi
Renduk Basungu No Penang
To Bala Sajan Barimung
We  Barimung

Parana Mampis Rempo Bulaeng
Konang Ya Dadi Sampang Rasate
Ngere Si Kemang Bilen Do Puin
Santung Din Poto No Guger

Manang Padenung Tenga Ai Suning
Tampo Ling Angin Kalisu
Satange Godong No Guger
Nempas Mo Langan We Langan Ko Tenrang

Seman Mo Nempas Langan Ko Tenrang
Ate Ku Pina Palabu
Bangka Samomat Ke Nyawa
Ku Layar Jangka We Jangka Nong Liang

==================================

Lisir Samada
By  :  Epun  Gera

Lamen Pendi
Lamen Mu Sayang Na Sayate

Tendri Niat Ku Sapuan
Sasopo Rasate Ke Jangi
Pang Andi Balong Manes Leng

Kabalong Jenang Mu Balong
Sear Mampes Sawer Kemas
Ada Samodeng Mela’ Pang Aku

Kemas Andi Intan Ku Gita
No Si Oba Ya Ku Bentir
Lok Nyata Tokal Pang Ate

Mengas Ate Tenrang Pangita
No Si Ompa Ya Ku Lisir
Lok Nanta Ate Kalangke
                       
Nan Si Sendi Sesal Ko Ate
Ya Samanta Santurit Leng
Rena Ya To Dadi Susate
Pola Rara Ka Tu Ngining

Andi Parasa Gama Na
Andi Parasa Gama Na
Samada Ta We Andie
Samada Umin Ka Balong

==================================

Rabuang Tate
By  :  Epun  Gera

Rabuang We Tate Tate Sakele Kopang
Kopang Ale Ale Me Ka Lako Baeng Bale
Ka Lalo Nyembir Bela Bela Palepa Dua
Dua Ulin Datu Sopo Ulin Saleman
Bintang Sonap Selak Karang
Karang Me Mu Tama Karang Sia De Kalekok
Nyuk Nyak Ayam Cukung
Iring Anak Balo Bongkok   Kok....Kok

Bakendek Adi Bakendek
Ma Tu Lalo Iyer Buang
Buang Nan.. Buang Nan   Batali Tereng

Tu Gantong Pang Bao Langke
Langke Bale Papin Tongge
Tongge Papin....Tongge Papin  ...Si Bose

Si Bose Main Kandese
Ya Kandese Batu Enam
Enam Anak Ayam Pisak
Ayam Pisak Salasi
Iring Anak Ano Jemat
Poto Todok Dadi Sameto
Poto Todok Dadi Sameto
»»  Baca Selengkapnya
Template by : kendhin x-template.blogspot.com